the next article is under construction

•Oktober 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bencana yang Terencana

•Oktober 30, 2007 • 1 Komentar

Pekan terakhir di bulan Oktober Jakarta sudah diguyur hujan dengan frekuensi yang cukup tinggi. Seperti di hari Senin kemarin hujan turun deras mulai jam 3 sore. Hujan tersebut diiringi dengan angin kencang dan juga petir bahkan jam 5 sore menjelang jam kantor usai hujan masih juga deras, maka tak ayal lagi banjir mulai terjadi dan dimana-mana jalanan tergenang air. Dibeberapa tempat sepanjang depan RS Tebet sampai Kebon Nanas air menggenang sampai bagian mesin sepeda motor. Maka terjadilah kemacetan parah dimana-mana, selain karena banjir tersebut juga karena banyak kendaraan yang mogok plus kemacetan akibat busway yang belum teratasi.

Jakarta merupakan daerah berikutnya yang akan terkena bencana banjir di tahun ini. Daerah-daerah lain di Indonesia seperti Aceh, Samarinda dll sudah lebih dulu terkena bencana ini. Banjir merupakan bencana yang sangat familiar sekarang ini bagi bangsa Indonesia, bahkan saking seringnya sudah banyak yang menganggap banjir bukan bencana alam lagi tapi sudah jadi ”event” yang tiap tahun pasti terjadi, sebab banjir sebenarnya sudah diprediksi pasti terjadi. Bahkan sebagian masyarakat seolah-olah menyiapkan segala sesuatunya untuk kedatangan ”sang banjir” tiba tanpa bisa berbuat sesuatu untuk mencegah kedatangannya. Maka munculah pertanyaan apakah banjir yang terjadi masih dikatakan bencana alam? Mengingat hal itu sudah bisa diprediksi terjadi jauh-jauh sebelumnya.

Khusus banjir di Jakarta, orang-orang sudah bisa memprediksi bahwa baniir pasti akan terjadi. Persoalan bagaimana mengatasi sumber banjir sampai bagaimana mengatasi jika banjir tiba, sampai detik ini belum ada solusi yang jelas. Konservasi daerah puncak yang konon dituding sebagai penyuplai banjir Jakarta belum juga teratasi. Pembangunan hotel, villa, real estate di kawasan puncak tetap terus terjadi. Daerah penyerepan air di kawasan itu tetap terus ditutup dengan beton dan aspal. Areal hutan dan pertanian semakin berkurang, alhasil semua air hujan akan meluncur deras ke sungai-sungai yang kemudian membanjiri Jakarta dan sekitarnya. Bahkan bisa jadi suatu saat nanti bukan saja air tapi juga lumpur akan mengalir deras ke Jakarta dan sekitarnya jika konservasi puncak tidak kunjung berhasil.

Selain itu, disepanjang aliran sungai sampah-sampah menumpuk akibat perilaku warga yang tidak juga kunjung sadar. Ratusan kubik sampah menghambat aliran sungai disetiap pintu air, belum lagi aliran yang dihambat oleh pemukiman liar yang terus saja berdiri di sepanjang pinggiran sungai-sungai di Jakarta. Sampai saat ini Pemprov DKI belum juga berhasil memindahkan mereka dari bantaran sungai ke program rumah susun. Persoalan bagaimana mengalirkan air banjir yang sudah terlanjur masuk Jakarta juga tak kunjung ada solusinya. Banjir Kanal Timur (BKT) yang akan mengalirkan air di Jakarta ke laut sampai saat ini masih menggantung karena persoalan pembebasan tanah. Ditambah lagi dengan tanah Jakarta yang terus ditutup dengan bangunan beton dan aspal sehingga menyebabkan air semakin gemar dan betah menggenangi Jakarta. Untuk itu impian warga Jakarta untuk bebas banjir masih tetap dalam impian dan angan-angan semata sampai detik ini.

Bagaimana dengan banjir secara umum yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia? Banyak ilmuwan telah membuktikan secara ilmiah dan masyarakat pun sudah melihat pembuktiannya secara nyata bahwa banjir dan tanah longsor memiliki hubungan langsung dengan kerusakan hutan. Begitupula yang terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki hutan 126,8 juta hektar. Namun data Walhi mengungkapkan bahwa laju kerusakannya mencapai 2 juta hektar pertahun atau setara luas pulau Bali. Kemampuan hutan Indonesia yang hanya mampu memasok kayu 46,77 juta meter kubik per tahunnya dipaksakan untuk memasok industri kayu 96,19 juta meter kubik. Akibatnya pembalakan liar atau ilegal loging marak terjadi dimana-mana dan menghancurkan hutan Indonesia. Hasil yang didapat tidak hanya musnahnya hutan tapi baniir dan longsor menjadi bencana yang sudah pasti diprediksi akan terjadi. Daerah-daerah seperti di Pulau Sumatera, kalimantan dan Sulawesi dulunya merupakan hamparan hutan yang maha luas bahkan dianggap paru-parunya dunia. Namun sekarang tidak banyak yang bisa diselamatkan dari hutan itu dan seiring itu pula tidak sedikit masyarakat yang menderita akibat banjir sebagai dampaknya.

Data Walhi pula menyebutkan bahwa di tahun 2006 telah terjadi 59 kali bencana banjir dan longsor yang tergolong besar. Jika ditambah yang kecil-kecil mungkin bisa ratusan dan setiap tahun kejadian itu cenderung semakin bertambah. Dari 59 kali bencana itu Walhi mencatat bahwa banjir dan longsor tahun 2006 tersebut telah memakan korban jiwa 1.250 orang, merusak 36 ribu rumah dan menggagalkan panen di 136 ribu hektar lahan pertanian, kerugian langsung dan tak langsung yang ditimbulkan rata-rata sebesar Rp. 20,57 triliun setiap tahunnya, atau setara dengan 2,94% dari APBN 2006! Jika laju kerusakan hutan bertambah dan mengakibatkan bertambahnya banjir dan longsor maka korban dan kerugian juga semakin bertambah banyak. Sekali lagi kejadian ini semua sudah bisa diprediksi dan diperhitungkan oleh manusia bukan? Apakah banjir dan longsor yang terjadi masih bisa dikategorikan bencana alam? mengingat bencana itu terjadi pada manusia atas rencana manusia lainnya. ~mzwwn~

Arena Aji Mumpung Saat Masa Mudik

•Oktober 29, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hajatan mudik yang melibatkan ratusan ribu bahkan jutaan manusia benar-benar membuat hiruk pikuk semua kalangan. Hampir semua sibuk dengan pembahasan dan pembicaraan pada bagaimana mudik dengan segala faktor dan kaitannya. Di pihak pemerintah sibuk bagaimana penyelenggaraan mudik tahun ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. Di pihak para pemudik sibuk menyiapkan segala macamnya tentang mudik mulai dari biaya, barang bawaan sampai sarana transportasi yang akan digunakan. Namun selain itu ternyata banyak pihak pula yang sibuk untuk memikirkan bagaimana memanfaatkan mudik menjadi lahan mencari keuntungan, baik dari skala kecil sampai skala besar.

Skala besar jelas dilakukan oleh para pengusaha. Semua pengusaha moda transportasi tentu saja memanfaatkan moment mudik untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Kenaikan tarif yang memaksimalkan ketentuan pemerintah yaitu batas atas sangat memberikan keuntungan pada para pengusaha semua moda angkutan baik darat, laut dan udara. Bahkan pengusaha nakal menaikan tarif di atas ketentuan pemerintah. Selain pengusaha transportasi, pengusaha barang-barang konsumsi juga memanfaatkannya. Dengan alasan stok barang berkurang dan harga barang pada umumnya naik maka ramai-ramailah pengusaha dan pedagang menaikan semua harga barang mulai dari sayur mayur sampai makanan jadi, pakaian jadi dsb.

Dalam skala kecil sampai menengah para pedagang asongan, pedagang dadakan pinggir jalan, bengkel dadakan, tukang parkir, kuli angkut stasiun dan terminal, pengamen sampai pada polisi cepek sangat memanfaatkan moment mudik itu. Salah satu contoh ketika macet di sepanjang Subang sampai Indramayu banyak yang menawarkan jalan alternatif namun tentu dengan imbalan. Bahkan jalur alternatif untuk sepeda motor yang melewati pinggir sawah pun diminta sawerannya. Pedagang dan bengkel dadakan pinggir jalan berdiri bagaikan jamur di kanan kiri jalan. Ratusan pengamen dan pedagang asongan berhamburan di sepanjang jalan yang tiap moment mudik sepertinya tidak pernah sepi dari kemacetan. Tak ayal ketika pemerintah berusaha memperlancar jalur itu banyak masyarakat sekitar yang keberatan dengan alasan berpengaruh pada ”rezeki dadakan” yang akan mereka dapatkan. Itu baru satu jalur saja. Bagaimana dengan ratusan jalur lagi sepanjang peta mudik dari Sumatra sampai Bali. Ribuan orang bahkan jutaan orang memanfaatkan moment mudik untuk mendapatkan kentungan. Ini juga yang dimaksud dengan pemerataan ekonomi yang tak terencana dalam program ekonomi pemerintah. Mulai dari ratusan rupiah sampai jutaan rupiah tersebar melalui orang-orang tersebut.

Bagaimana dengan pemerintah sendiri? Pemerintah memang tidak serta merta memanfaatkan moment mudik untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi. Yang jelas melalui berbagai BUMN yang terkait dengan penyediaan jasa transportasi pemerintah juga ikut mendapatkan keuntungan, seperti melalui Garuda Indonesia, PT Kereta Api, Perum DAMRI, PELNI, ASDP, Jasa Marga dll. Namun ada hal yang sebenarnya masih menjadi pertanyaan dan patut diselidiki yaitu pemanfaatan moment mudik untuk proyek proyek pejabat. Misalkan saja proyek perbaikan jalan. Setiap tahun pemerintah menganggarkan perbaikan jalan, bahkan untuk moment mudik sendiri konon pemerintah mengucurkan dana lebih, dengan harapan arus mudik menjadi lancar dan tidak menyengsarakan masyarakat. Namun realitanya adalah Mudik Lagi ya Macet Lagi.

Terlepas dari makin meningkatnya kendaraan dan manusia yang bermudik, namun pemerintah seharusnya bisa mengatasinya dengan proyek-proyek jalan yang menghabiskan milyaran bahkan bisa jadi trilyunan rupiah itu. Anehnya lagi setiap menjelang mudik, pekerjaan jalan selalu belum selesai 100%. Bahkan terkesan menjelang arus mudik, baru rame-rame mengerjakan proyek tersebut. Alhasil pengerjaan menjadi tergesa-gesa dan hasilnya seadanya dan tidak lama kemudian hancurlah proyek itu. Proyek lagi dan hancur lagi. Begitulah seakan-akan siklus yang terjadi. Kenapa pemerintah tidak jauh-jauh hari membangun proyek jalan yang benar-benar permanent dan benar-benar dikerjakan dengan penuh perencanaan? Kenapa pula pemerintah selalu menganggarkan bahkan meningkatkan anggaran proyek untuk pembangunan jalan-jalan yang itu-itu saja. Jalur pantura selalu menjadi lahan proyek. Setiap tahun dianggarkan untuk diperbaiki dan terus diperbaiki. Namun hasilnya tidak banyak berubah, dan selalu jadi biang kerok disetiap arus mudik. Hemmm…trus siapa dong yang aji mumpung ambil manfaat dalam kasus ini???? Selidiki dong!!!! ~mzwwn~

Mudik Lagi Macet Lagi

•Oktober 29, 2007 • 1 Komentar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ku ikutilah arus mudik lebaran. Tahun kemarin (2006) mudik cukup menyenangkan dalam hal transportasi karena kebetulan juga mendapat cuti libur lebaran yang lumayan panjang waktu itu, jadi transportasi tidak terlalu bermasalah. Namun tahun ini kondisi itu bertolak belakang. Ketika PNS mendapat tambahan jatah cuti bersama justru dikantorku libur sangat mepet 2 hari sebelum lebaran dan masuk 3 hari setelah lebaran. Dengan kondisi seperti itu was-was juga sebenarnya untuk mendapatkan transportasi yang layak dan lancar dalam bermudik.

Berita-berita di media massa, pemerintah memang sibuk menyiapkan sarana dan prasarana transportasi mudik ribuan manusia itu. Bersamaan dengan itu pula pemerintah berkoar-koar bahwa sarana dan prasarana telah siap dan menjamin akan berjalan lancar arus mudik-balik tahun ini. Sedikit tenanglah saya.

Berangkatlah saya Kamis, 11 Oktober. Naik bus dari Pulo Gadung, ratusan penumpang telah antri menunggu bus. Memang jarang bus ditempat itu. Mungkin saja penumpang terlalu banyak atau bus terlambat masuk terminal. Namun yang jelas saya baru dapat bus setelah menunggu 1jam lamanya. Bus bergerak keluar Jakarta. Namun baru sampai Bekasi Timur laju bus sudah melambat bahkan beberapa meter saja sudah berhenti dan merayap jalannya. 6 Lajur kendaraan arah Cikampek kondisi padar merayap bahkan kadang-kadang berhenti total. Ketika meninggalkan Pulo Gadung jam menunjukkan 06.00 WIB. Namun jam 08.00 waktu itu masih saja beberapa ratus meter dari Bekasi Timur. Puluhan menit bus dan ribuan kendaraan di jalan itu tidak bergerak. Kutelponlah saudara yang mudik dengan sepeda motor. Alangkah terkejutnya saya. Saudaraku berangkat naik motor jam 10 malam Kamis tapi jam 9 pagi kamis itu baru sampai Cikampek dan semalaman terjebak macet luar biasa antara Bekasi dan Cikampek. Jadilah saya membayangkan, jangan-jangan itu juga yang akan terjadi pada diri saya saat ini.

Dan betul saja. Bus sangat lambat bahkan cenderung berhenti berjam-jam di tol Cikampek. Dengan maksud menghindari antrian panjang di pintu tol Cikopo, Keluarlah bus di pintu tol Cikampek melewati Kawasan Industri Pupuk Kujang untuk kemudian bertemu jalan arteri dari arah Cikarang. Masya Alloh tambah luar binasa… tambah macet karena di pertemuan jalan itu menumpuklah arus yang keluar dari tol Cikampek dan dari arah Bekasi. Lebih parahnya lagi jalur yang hanya untuk dua lajur terbagi juga untuk ribuan motor pula. Maka yang terjadi adalah macet tambah parah dan panjang. Merayap-rayap akhirnya sampailah di di pertigaan Pamanukan. Namun masya Alloh jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Artinya setengah hari sudah perjalanan P. Gadung menuju Pamanukan. Saat normal waktu 7 jam itu sudah bisa memasuki kota Tegal.

Perjalanan berikutnya memang sedikit leluasa bergerak namun tetap saja melambat dan merayap sepanjang jalan pantura sampai kota Tegal. Dengan kondisi itu jam 11 malam Jumat sampailah di tempat tujuan kota Slawi. Intinya perjalanan normal 7 jam menjadi 18 jam. Untuk menuju rumah masih 2 jam lagi padahal Bapak dan motornya sudah menunggu sejak jam 8 malam. Hemm..mudik lagi macet lagi.. ~mzwwn~

Mudik: Hajatan Masal dan Realitasnya

•Oktober 1, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

MUDIK, sebuah istilah yang akan sangat hangat menjadi pembicaraan pada bulan ramadhan terutama menjelang Idhul Fitri tiba. Puluhan tahun istilah ini telah dikenal masyarakat luas di Indonesia dari berbagai kalangan. Mudik berasal dari kata udik, yang bisa diartikan pedalaman atau bisa juga pinggiran, namun dalam hal ini pedalaman dikonotasikan multidimensi. Secara harfiah berarti kembali dari sebuah titik pusat kehidupan masayarakat ke pedalaman atau pinggiran daerah mereka berasal, sedangkan secara simbolik mudik merupakan budaya masyarakat Indonesia yang berdimensi religius, dimensi demografi, ekonomi, dll.

Setiap tahun tepatnya di hari raya Idhul Fitri masyarakat yang sehari-harinya hiruk pikuk mencari penghidupan di kota akan mudik pulang kampung. Dari kota manapun mereka akan ramai-ramai pulang ke keluarganya masing-masing untuk merayakan hari raya bersama-sama. Namun karena kota Jakartalah yang terbesar dalam urusan mudik ini maka sorotan mudik akan terpusat di kota Jakarta. Mereka akan mudik menuju berbagai penjuru tanah air dari Sabang bahkan sampai Merauke. Diperkirakan tahun 2007 atau 1428 H ini akan terdapat sebanyak 32 juta orang akan mudik meninggalkan Jakarta.

Hiruk pikuk mudik manusia sebanyak itu tak ayal membuat pemerintah sibuk untuk mengurusinya terutama dalam hal transportasi. Berbagai macam moda transportasi baik darat, udara dan laut disiagakan. Bahkan untuk moda tertentu sudah sibuk sejak sebulan yang lalu atau awal Ramadhan. Tak heran jika tiket Kereta api dan pesawat sudah jadi barang langka dan mahal justru ketika Idhul Fitri semakin dekat. Kelangkaan dan mahal itulah yang membuat sebagian masyarakat rela menggunakan sepeda motor walaupun dengan jarak yang sangat jauh dan berisiko tinggi akan kecelakaan. Bahkan jumlahnyapun setiap tahun terus meningkat.

Memang untuk urusan mudik ini masyarakat akan rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuan mereka berlebaran bersama keluarga di kampung. Mereka rela antri tiket berjam-jam bahkan bisa seharian. Tiket semahal apapun akan mereka beli bahkan melalui calo tiket sekalipun. Bahkan tiket tanpa tempat duduk pun merek tetap beli asalkan terangkut. Bermudik dengan sepeda motor juga banyak mereka tempuh, padahal dengan sepeda motor itu mereka akan kepanasan, kehujanan, bahkan menjadi armada yang paling rawan kecelakaan di jalan raya. Belum lagi ketidak jelasan waktu tempuh karena karena kondisi jalan, kemacetan dan kerusakan kendaraan mereka. Dengan kondisi seperti di atas lalu mengapa mereka tetap ingin melakukannya dan mengulang-ulangnya setiap tahun? Padahal mereka sudah bisa prediksi hambatan dan rintangan itu akan terjadi jauh-jauh hari?

Memang inilah uniknya budaya mudik, tak dapat diingkari banyak hikmah yang bisa diambil dari budaya ini. Hikmah secara religi jelas bahwa mudik merupakan sebuah silaturahmi masal dari umat Islam yang sehari-hari hidup di kota kepada keluarga dan familinya di desa. Keyakinan bahwa silaturahmi merupakan perbuatan amaliyah yang berpahala besar, membuka pintu rezeki dan menambah usia harapan hidup bertambah seakan-akan membakar tekad dan semangat umat untuk ramai-ramai mudik di Idhul Fitri. Sebenarnya mudik juga banyak dilakukan pada waktu-waktu tertentu, namun Idhul Fitri lah moment yang paling besar. Hikmah lainnya adalah secara kebangsaan, mudik jelas akan semakin memperkuat tali persaudaraan dan persatuan bangsa. Akan nampak jelas ikatan kekeluargaan yang kuat dan kental masyarakat yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di moment mudik Idhul Fitri itu. Belum mereka yang mudik antar kota lain di seluruh wilayah tanah air selain Jakarta. Mereka yang menyebar dari berbagai penjuru kota akan saling bertemu di kampung dan berbagi cerita dan kisah hidup. Subhanalloh sungguh luar biasa hikmah ini.

Hikmah secara sosial ekonomi, mudik merupakan sebuah gambaran kepulangan masal dari masyarakat daerah yang telah bertekad melakukan sebuah mobilitas sosial di kota. Secara umum mobilitas sosial dapat digambarkan sebagai sebuah proses perpindahan (movement) atau kesempatan untuk berpindah (opportunity to move) pada kelompok-kelompok sosial yang berada di masyarakat, terutama sekali proses perpindahan dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung menjadi masyarakat yang lebih beruntung secara sosial ekonomi. Kota adalah menjadi tempat tujuan mereka untuk bermobilitas sosial tersebut, walopun pada kenyataannya mereka belum tentu berhasil melakukannya. Berhasil dalam arti pindah dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi. Dari proses tersebut tentu banyak materi, cerita dan pengalaman yang mereka bagikan kepada sanak saudara ketika mudik. Alhasil hikmah ini membawa dampak baik positif maupun negatif.

Positifnya adalah mereka yang berhasil melakukan proses mobilitas dari kurang beruntung menjadi beruntung secara ekonomi yang kemudian dikenal dengan istilah ”orang sukses” akan membawa keberhasilannya secara materi itu ke desanya. Milayaran bahkan trilyunan rupiah akan masyarakat bawa ketika bermudik. Mereka akan belanjakan rupiah mereka baik di sepanjang perjalanan maupun di desanya. Dampak ini sungguh luar biasa. Pemerataan ekonomi yang tidak usah repot-repot direncanakan pemerintah, tapi sudah pasti terjadi setiap tahunnya. Dari hal yang paling sepele seperti membeli makan di jalan-jalan ketika macet, warung makan di sepanjang perjalanan, memberi uang lebaran kepada sanak famili, belanja keperluan lebaran di desa, service motor dan mobil di bengkel-bengkel daerahnya, bahkan bisa jadi sampai membangun atau renovasi rumah di desa. Contoh konkritnya adalah misalkan 32 juta orang yang mudik tersebut membeli air minum kemasan di jalan-jalan seharga 2 ribu rupiah saja, bayangkan berapa rupiah yang telah mereka sebarkan ke daerah. Makanya tak tanggung-tanggung banyak daerah kabupaten yang sengaja membuat acara penyambutan khusus bagi kepulangan warganya yang mudik setiap lebaran. Karena memang dampak secara sosial ekonomi akan sangat dirasakan terutama untuk pembangunan daerah itu.

Namun demikian dampak negatif juga tak bisa terhindarkan. Kepulangan mereka yang berhasil bermobilitas sosial ini akan membuat silau warga desa yang lainnya. Maka tak ayal lagi mereka berbondong-bondong ikut ke kota ketika arus balik mudik tiba. Urbanisasi akan terjadi bahkan kecenderungan semakin meningkat setiap tahunnya terutama tujuan Jakarta. Pemda DKI dibuat kalang kabut jika lebaran usai, karena sudah pasti penduduk yang mendatangi Jakarta ketika lebaran usai akan jauh lebih besar dari penduduk yang meninggalkan Jakarta ketika mau lebaran. Dampak negatif lainnya adalah membuat masyarakat menjadi semakin materialistis ketika melihat para pemudik yang telah menjadi orang sukses kemudian ”memamerkan’ keberhasilannya itu, apalagi jika yang dipamerkannya itu hal-hal yang berbau materi semata. Tidak secara kasat mata memang, tapi gaya hidup materialistis bahkan hedonisme yang dibawa para pemudik akan semakin mempengaruhi gaya hidup warga desa yang aslinya adalah sederhana dan bersahaja.

Tapi apapun hikmah dan dampaknya, mudik merupakan sebuah ”Hajatan Masal” yang patut dipertahankan sepanjang masa. Bahkan melihat dari besarnya event dan dampak sosial ekonomi dari mudik ini pemerintah perlu menambah satu Dirjen di Departemen Perhubungan atau di Departemen Agama yaitu Direktorat Jenderal Urusan Mudik hehehe… Sebenarnya Idhul Fitri dengan mudik atau tanpa mudik juga sama saja, toh yang paling penting adalah nilai kebermaknaan dari Idhul Fitri itu sendiri. Tapi dengan adanya mudik nilai kebermaknaan Idhul Fitri akan menjadi semakin mengena dan mendalam baik untuk diri pribadi setiap muslim, keluarganya, masyarakat desanya bahkan sampai pada negara ini. Tentu saja percaya tidak percaya budaya ini ada dan hanya ada di Indonesia. Mudik yu’???… ~mzwwn~

Busway VS Budaya Warga Jakarta

•Oktober 1, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

BUSWAY benar-benar menguji kesabaran warga Jakarta ketika di jalan saat Ramadhan tahun ini. Pembangunan Jalur Busway yang membentang dari Grogol-Uki-Tanjung Priok dan Lebak Bulus-Kota benar-benar membuat macet ruas-ruas jalan utama Jakarta. Pembangunan yang dimulai di awal Ramadhan tahun ini sangat luar biasa dampaknya terhadap kemacetan di jalur itu. Padahal baru tahap membangun jalurnya saja dengan mengecor sebagian jalan, tidak terbayangkan jika pembangunan sudah memasuki pembuatan shellter dan jembatan penyebrangannya nanti. Saya yang biasa ngantor dari Rawasari sampai MT Haryono Pancoran hanya butuh waktu 15 menit maka sekarang bisa 30-45 menit. Bahkan kalau Senin Pagi bisa 1 jam lebih, itu saja pakai motor dan bisa dibayangkan yang naik angkutan umum atau mobil pribadi. Teman-teman sekantor juga sangat merasakan dampaknya dan terlambat menjadi kebiasaan setiap harinya, padahal selama puasa jam kantor sudah dimundurkan 1 jam dari biasanya.

Secara langsung maupun tidak langsung adanya busway memang membawa dampak dan perubahan pada budaya berkendara warga Jakarta, walopun perubahan utama yang diharapkan yaitu berpindahnya pengguna mobil pribadi ke busway tidak tercapai sampai detik ini. Ketika pembangunan jalur maka jelas membawa dampak pada kemacetan jalan-jalan karena berkurangnya lajur jalan dan alat-alat pembangunan yang memakan sebagian jalan lainnya. Apalagi jika dijalan tersebut memerlukan pembongkaran bagian jalan ataupun penebangan pohon, papan reklame dan sebagainya. Kemacetan parahlah yang terjadi di setiap jam kantor. Keadaan seperti itu tentu akan sangat membawa kerugian bagi warga jakarta baik dari segi waktu, tenaga, pikiran/psikologis apalagi secara ekonomi. Maka munculah Umpatan, cacian dan kekesalan yang kerap di tujukan pada proyek itu.

Awal-awal digulirkannya pembangunan busway koridor I dan II dulu, begitu banyak yang meragukan bahkan penentangan dari berbagai kalangan. Bahkan setelah busway mulai beroperasi dan koridor-koridor selanjutnya mulai dibangun pun masih juga banyak kesinisan dan keraguan bahwa busway akan menjadi solusi pada masalah transportasi di Jakarta. Karena memang pada kenyataannya koridor I dan II belum bisa membuat warga yang terbiasa dengan mobil pribadi rela pindah menggunakan jasa busway.

Banyak faktor yang menyebabkan hal diatas terjadi. Faktor dari masyarakatnya sendiri adalah mereka terbiasa dengan kenyamanan berkendara secara pribadi dan tidak perlu bersusah payah antri. Dari faktor pengelola juga terlalu banyak kekurangan yang menyebabkan kaum kaya “ogah” naik busway. Feeder busway tidak berjalan sesuai rencana yang menyebabkan orang malas menuju shellter busway terdekat, selain itu armada yang terbatas menyebabkan antrian panjang di shellter-shellter tertentu seperti di Blok M, Monas, apalagi di Shelter central Harmoni. Kenyamanan baik di shellternya yang tidak terwat maupun di bus nya yang penuh sesak juga menjadi faktor yang menyebabkan orang kaya malas naik busway. Dengan kondisi seperti itu maka pantas saja pemprov DKI memperkirakan hanya 30% saja pengguna mobil pribadi yang mau pindah ke busway. Maka yang bisa dilihat adalah kemacetan di Sudirman, Thamrin, Gatot Subroto, Rasuna Said dan jalan-jalan protokol lainya tidak berubah setelah adanya busway, bahkan tambah macet pada jam-jam tertentu.

Namun dibalik cacian, penentangan bahkan “kegagalan” busway memikat kaum bermobil untuk menggunakannya, ternyata busway juga banyak ditunggu. Bisa dilihat ketika jam 7-10 pagi di titik-titik pemberangkatan masing-masing koridor, akan sangat penuh sesak dan antrian panjang pengguna busway yang rata-rata warga menengah ke bawah. Di Blok M, Pulo Gadung, Ragunan, Rambutan maupun Kali Deres pernah saya naik pada jam-jam itu. Luar biasa memang antusias warga Jakarta. Mereka rela antri dan menunggu puluhan menit agar bisa terangkut. Apalagi jika melihat antrian di shelter central Harmoni dimana terjadi perpindahan koridor dari koridor I Blok M-Kota, koridor II Harmoni-Pulo Gadung dan koridor III Harmoni-Kalideres. Sangat-sangat penuh sesak di shellter itu bahkan AC yang terpasang sudah tidak terasa lagi.

Sebenarnya untuk mengubah perilaku masyarakat Jakarta agar lebih mengutamakan transportasi umum dari pada alat transport pribadi mereka, tidak hanya melulu penyediaan sarana saja. Namun yang lebih penting adalah penyadaran dan perubahan budaya masyarakat. Masyarakat di semua level, bawah, menengah maupun atas harus sadar bahwa tanpa adanya kesadaran mereka merubah pola transportasi mereka, akan sulit mewujudkan lalu lintas Jakarta yang tertib dan teratur. Bahkan perkiraan tahun 2010 Jakarta akan macet total dimana-mana, bahkan keluar dari komplek rumah saja sudah macet, sungguh-sungguh akan terjadi. Tersedianya puluhan koridor busway bahkan monorail nantinya akan sia-sia belaka jika masyarakat tidak mau pindah dari nyamannya kendaraan pribadi mereka. Selain itu budaya yang hanya bisa membangun fasilitas namun tidak bisa menjaganya harus segera diubah. Ini juga perlu sosialisasi yang serius dari pemerintah kepada masyarakat. Pembangunan fasilitas yang hanya mengutamakan “proyek” bagi pejabat juga harus diubah agar pembangunan benar-benar sesuai dengan harapan masayarakat.

Kesimpulannya adalah bahwa untuk mewujudkan sistem transportasi masal di Jakarta akan sangat sulit terwujud jika semua kalangan masyarakat dan pemerintah tidak memiliki kemauan kuat merubah budaya berkendara mereka. Karena mau tidak mau perubahan alat transportasi yang akan dibangun akan merubah budaya penggunanya. Jika perubahan budaya tersebut tidak disosialisasikan dan diterapkan maka pembangunan fasilitas transportasi masal secanggih apapun di negeri ini tidak akan menjadi solusi permasalahan yang ada, tapi hanya sekedar menjadi monumen belaka bahkan bisa jadi hanya menjadi lahan proyek para pejabat semata. Mudah-mudahan saja hal itu tidak terjadi di kemudian hari pada busway yang saat ini banyak yang kesal mengadu, namun banyak pula yang menunggu. ~mzwwn~

Sinetron PPT Tayangan Alternatif Penuh Hikmah

•Oktober 1, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

PARA PENCARI TUHAN (PPT) merupakan sebuah tayangan sinetron dengan kemasan sine kuis yang disuguhkan sebuah stasiun televisi untuk mengisi acara sahur di ramadhan tahun ini. PPT memberikan sebuah alternatif tontonan televisi yang bagus, tidak hanya tayangan alternatif khusus pada bulan ramadhan namun saya kira untuk tayanyan-tayangan televisi secara umum terutama sinetron. Ditengah-tengah maraknya sinetron yang mengumbar hawa mistis, PPT justru memberikan cerita-cerita yang penuh makna dan pelajaran religius sederhana yang sangat berguna untuk kehidupan masyarakat. Disaat banyak sinetron mengumbar kematrialistisan (harta tahta wanita) semata, PPT justru menggambarkan kehidupan sosial ekonomi yang nyata di masyarakat kebanyakan. Dan ketika sinetron banyak yang hanya mengumbar kisah percintaan pria dan wanita semata, PPT justru menggambarkan lika-liku kisah cinta dan kasih sayang antar sesama manusia dari segala sudut baik kaya-miskin, pria-wanita, orang tua-anak dll.

Cerita PPT memang sesungguhnya menggambarkan relita kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat. Kehidupan Ustad Fery dan keluarganya dan kehidupan Bang Jak sebagai marbot mushola sangat kental dengan realita kehidupan kaum religi dari berbagai aspek kehidupan. Sangat nyata ketika dalam salah satu episodenya menggambarkan Ustad Fery yang ternyata lebih mementingkan kontrak syuting acara dakwah daripada undangan ceramah di rumah Pak Jalal yang telah dijanjikannya sebelum ada tawaran kontrak. Atau ketika Ustad Fery merasa tersaingi oleh kesibukan, kepopuleran dan penghasilan istrinya yang ternyata tayangan dakwah istrinya di televisi lebih laku dari dirinya. Atau saat istri Ustad Fery lebih memilih menyobek surat kontrak kerjanya dengan produser ketika tahu bahwa suaminya meragukan cinta dan kasih sayangnya telah luntur akibat kepopulerannya di bidang dakwah. Penggalan-penggalan cerita itu realistis terjadi di masyarakat bahkan dikalangan ustad sekalipun, Ustad Fery bilang “ustad juga manusia”. Dan PPT mengemasnya dalam sebuah cerita yang sederhana dan mudah dicerna.

Lain halnya gambaran kehidupan dari Chelsea, Baronk dan Jeki. Tiga pemuda ini menggambarkan perjuangan mantan napi untuk kembali diterima dalam kehidupan masyarakat. Lika-liku hidupnya sangat nyata menggambarkan mantan napi yang walaupun sudah bertekad dan berlaku baik namun tetap sulit diterima masyarakat bahkan orang tuanya sekalipun. Bang Jak mau menerima tiga pemuda ini mungkin dengan alasan mereka masih muda, punya niat bertaubat dan tidak bisa terbayangkan yang terjadi jika mereka tetap terlunta-lunta dijalanan. Jeruji besi mungkin akan menjadi tujuan berikutnya, alias kembali ke asal. Jadilah cerita Bang Jek menjadi guru dari tiga orang pemuda itu dan menampunya di mushola. Penggalan cerita ketika tiga orang itu selalu dicurigai Pak Jalal saat berkunjung ke rumahnya untuk ngapelin Kalila sepupunya, ataupun si Jeki yang selalu diusir ibunya ketika ia mau minta maaf merupakan gambaran nyata betapa sulitnya menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepada mantan napi. Dengan bumbu-bumbu drama komedi PPT sangat cerdas menggambarkan hal itu.

PPT juga menggambarkan bagaimana realita kehidupan orang kaya dan miskin. Pak Jalal digambarkan sebagai orang terkaya di kampung itu. Walopun kurang jelas mengapa bisa sekaya itu, namun perilaku dan sikap Pak Jalal memang menggambarkan sebagian besar orang kaya di masyarakat. Selalu menganggap remeh orang, sok kuasa, sombong, pelit dsb. Sebaliknya tokoh Asril yang pekerja serabutan dan Udin si hansip kampung cukup menggambarkan kehidupan orang miskin. Hutang sana, hutang sini, gali lubang tutup lubang untuk mencukupi kehidupannya. Cukup menggelikan namun sangat nyata terjadi di masyarakat ketika PPT menggambarkan kehidupan mereka. Seperti misalnya penggalan cerita ketika si Asril dan Udin sama-sama dikejar-kejar bayar hutang oleh tukang sayur, atau cerita Pak Jalal yang dengan congkaknya ingin sakitnya diumumkan ke seluruh warga kampung agar para tetangganya yang pernah dibantu menjenguknya, atau cerita ketika Asril dan Udin merengek-rengek pada Pak Jalal minta dikasih kerjaan agar keluarga mereka bisa makan di hari itu. Cerita-cerita tersebut sederhana namun cukup memberikan hikmah bagaimana seharusnya manusia bersikap pada Tuhannya maupun sesamanya ketika menjadi manusia kaya atau ketika menjadi manusia miskin. PPT mengemas hikmah itu dalam cerita sederhana, menggelikan dan sangat menghibur.

Tidak kalah menariknya kisah percintaan antar manusia yang digambarkan melalui Aya dan Azam. Lika-liku percintaan kaum muda tersebut di bumbui dengan pelajaran-pelajaran religi tentang hubungan sesama manusia. Romantika hubungan cinta dan kasih sayang itu juga digambarkan ketika Chelsea, Baronk, Jeki dan Bang Jek bersaing memperebutkan Kalila, atau ketika Chelsea tetap bersikukuh kembali ke cinta lamanya si Marni yang baru menjadi janda dari seorang polisi yang tewas dalam tugas. Penggalan-penggalan cerita itu cukup membawa pemirsa ke dalam suasana romantis namun tetap membuahkan hikmah dibalik penggalan cerita itu.

Dibalik cerita-cerita dalam PPT itu memang membawa berbagai hikmah yang bermanfaat. Sehingga dalam berbagai komentarnya banyak pemirsa yang mengatakan sinetron ini berat ringan. Berat karena sarat akan hikmahnya namun ringan dalam kemasan ceritanya sehingga mudah dicerna. Sinetron-sinetron seperti inilah yang sepertinya sangat dirindukan pemirsa televisi ditengah-tengah gencarnya sinetron yang mengumbar mistis, anarkhis, materialistis dan kisah romantis semata.~mzwwn~

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.